Pintar-pintarlah dalam membuat afirmasi self-talk yang positif. Bicaralah dengan baik, tidak hanya dengan orang lain, tetapi juga dengan dirimu sendiri. Buanglah kalimat-kalimat yang merendahkan diri. Yang ada di pikiran kita perlu dibersihkan. Mari kita bersihkan satu per satu.
- Pertama, hindari negative thinking.
- Kedua, kurangi overthinking.
- Ketiga, berbicara tentang pikiran yang kotor.
Biasanya, ketika kita membuka kamus dalam tema ini, pikiran kita cenderung mengarah ke hal-hal negatif. Mari kita balikkan semuanya. Pikiran ini bisa menjadi beban. Bagaimana cara menghapusnya? Terkadang, kita terkenang-kenang oleh video atau kenangan. Tahun berapa itu masih ada gambarnya di sini? Bahkan kita masih ingat itu dan menyimpannya di folder yang tersembunyi. Ini berhubungan dengan pikiran kotor. Pikiran kita mungkin tidak selalu jernih. Ingatlah bahwa hidup kita dibentuk oleh pikiran kita sendiri. Jangan-jangan profilmu tidak jauh berbeda dari situasi ini. Jika kacamata kita kotor, kita melihat realitas sekeliling kita juga menjadi kotor. Mungkin yang salah bukan realitasnya, tapi memang kacamata kita yang kotor.
Kita akan mulai dengan melihat bagaimana cara membersihkan pikiran kita dari pemikiran negatif. Tugas kita ini cukup berat, karena kita akan membahas tentang cara mengatasi pemikiran negatif. Bagaimanapun juga, pemikiran overthinking dan negatif adalah bagian dari pikiran yang harus kita atasi.
Mari kita mulai dengan membersihkan pikiran kita dari segala hal negatif. Pemikiran negatif adalah segala pikiran yang terkait dengan emosi destruktif atau tidak menyenangkan, seperti kemarahan, kecemasan, depresi, dan pesimisme, yang selalu melihat segala hal dari sisi negatifnya.
Contohnya, ketika melihat sesuatu, pikiran negatif cenderung melihat sisi buruknya. Misalnya, melihat sebuah minuman dan berpikir, "Wah, jangan-jangan ini diracun", atau "Ada yang benci saya, pasti." Ini menunjukkan kebiasaan berpikir negatif, di mana segala sesuatu dipandang dari sisi negatifnya, bahkan hal-hal yang positif sekalipun.
Misalnya, ada orang yang tidak pergi ke masjid dan langsung dianggap bukan muslim yang baik, atau ketika ada orang yang rajin ke masjid, dipikirkan itu hanya pencitraan. Bahkan ketika bertemu dengan orang yang baik, pikiran negatif bisa membuat kita berpikir itu hanya pencitraan, apalagi jika orang tersebut memang memiliki niat buruk.
Pikiran negatif sering kali berpusat pada diri kita sendiri. Misalnya, kita mungkin berpikir, "Saya memang orang yang gagal," atau "Saya selalu mengecewakan." Kita mungkin merasa seolah tidak ada yang peduli atau semua orang hanya ingin memanfaatkan kita. Pikiran-pikiran negatif ini bisa sangat merusak.
Ketika ada orang yang mencoba membantu, kita mungkin berpikir, "Dia pasti merendahkan saya. Apakah dia pikir saya tidak bisa mengurus diri sendiri?" Jika tidak ada yang membantu, kita bisa menjadi marah, berpikir bahwa tidak ada yang empati. Menghadapi orang dengan pikiran negatif bisa sangat menantang. Jika kita mencoba membantu, mereka mungkin merasa direndahkan; jika kita tidak membantu, mereka bisa berpikir kita tidak peduli.
Mari kita belajar mengenali ciri-ciri pikiran negatif di sekitar kita. Secara umum, ada empat ciri pikiran negatif yang otomatis muncul tanpa usaha.
Pertama, pikiran negatif ini datang begitu saja; ketika seseorang sudah terbiasa berpikir negatif, mereka tidak perlu berusaha untuk melihat sisi negatif - itu sudah menjadi reaksi otomatis mereka. Pikiran negatif ini muncul secara tidak sengaja dan merupakan bagian dari kebiasaan atau karakter mereka yang cenderung melihat segala sesuatu dari perspektif negatif. Bagi Anda yang sering berpikiran negatif, penting untuk menyadari bahwa pikiran-pikiran ini seringkali muncul secara otomatis, mungkin karena sering kali kita melakukannya atau sudah menjadi kebiasaan.
Kedua, pikiran negatif tersebut sering kali terdistorsi. Artinya, saat melihat sesuatu, kita tidak melihatnya secara utuh, hanya fokus pada aspek negatifnya saja. Sebagai contoh, dalam mempelajari suatu ilmu pengetahuan, meskipun banyak manfaat yang bisa diperoleh, yang sering dilihat hanyalah kekurangannya. Misalnya, kritik terhadap waktu selesainya yang terlalu malam, atau kekurangan lain seperti tidak adanya rekaman video, hanya audio, yang sering menjadi bahan kritik. Ini semua merupakan contoh pikiran yang terdistorsi, di mana hanya aspek negatif yang dilihat.Orang dengan pikiran terdistorsi biasanya sulit untuk tersenyum karena mereka cenderung selalu khawatir dan cemas, melihat dunia melalui "kacamata" yang selalu negatif.
Ketiga, pikiran negatif dapat bersifat obstruktif, menghalangi kita dari mencapai tujuan-tujuan tertentu. Pikiran negatif bisa membuat kita tidak maksimal dalam belajar, khawatir berlebihan tentang hal-hal seperti keamanan motor di parkiran kampus, ketidakpastian jadwal transportasi umum, atau rasa malu saat harus berangkat bersama teman. Pikiran seperti ini menghalangi kita dari beraksi karena terlalu fokus pada potensi hasil negatif. Banyak tujuan hidup yang tidak tercapai karena pikiran negatif yang bersifat destruktif, yaitu menghalangi kita dalam mewujudkan keinginan. Ini menandakan bahwa pikiran tersebut sudah sangat negatif.
Selanjutnya, pikiran negatif seringkali terasa masuk akal bagi orang yang memiliki kecenderungan berpikir negatif. Mereka selalu menemukan alasan untuk membenarkan pandangan negatif mereka. Alasan-alasan ini, pada dasarnya, adalah hasil dari pemikiran kita sendiri. Seperti yang telah disampaikan, pikiran kita dapat diarahkan ke mana saja, bahkan dalam menciptakan alasan untuk membenarkan kesalahan.
Pikiran negatif ini disebut plausibel karena didukung oleh logika kita sendiri, meskipun logika tersebut bias. Contohnya, kita mungkin berpikir tidak perlu pergi ke sekolah karena khawatir motor akan hilang, atau merasa bahwa guru selalu mengulang materi yang sama dan tidak menarik, sehingga lebih baik belajar dari YouTube. Selalu ada justifikasi untuk menghindari sesuatu yang dianggap berisiko atau tidak menarik.
Ini adalah ciri-ciri pikiran negatif: muncul secara otomatis, mendistorsi realitas, menghalangi pencapaian keinginan baik, dan terasa masuk akal bagi yang memilikinya. Namun, sebenarnya, jika kita menemukan kecenderungan ini dalam diri kita, kita harus berusaha membersihkannya.
Ketika kita mulai melihat sisi negatif dari sesuatu, cobalah untuk bertanya pada diri sendiri: apakah ini benar-benar hanya negatif? Apakah ada sisi positifnya? Mungkin awalnya kita tidak menyadari, tetapi seringkali ada aspek positif yang belum kita pertimbangkan. Meskipun penting untuk memperhatikan aspek negatif, tidak kalah pentingnya untuk mengakui dan mempertimbangkan aspek positifnya juga.
Nah, jika kita sudah mulai melihat sesuatu dari perspektif yang lebih luas, kita tidak hanya terpaku pada aspek negatifnya. Sekarang, mari kita pelajari lebih dalam tentang berbagai faktor yang seringkali menjadi sumber pikiran negatif. Saya akan memberikan contoh dari dunia kuliah, karena itu lingkungan yang paling saya kenal.
Salah satu sumber pikiran negatif bisa berasal dari cara kita menyaring informasi. Kita cenderung mengabaikan hal-hal positif dan hanya fokus pada yang negatif. Misalnya, dalam konteks kuliah, kita mungkin lulus suatu mata kuliah dengan nilai C+, padahal kita mengharapkan nilai A. Karena itu, kita langsung berpikir bahwa kita bukan mahasiswa yang hebat, merasa negatif, padahal mungkin hanya mata kuliah tersebut yang kita tidak kuasai, sementara mata kuliah lainnya bisa jadi nilai kita sangat baik. Kita hanya fokus pada hal negatif tersebut. Ini adalah contoh bagaimana kita 'menyaring' informasi. Orang dengan pola pikir seperti ini biasanya juga kesulitan mengapresiasi keberhasilan orang lain. Misalnya, jika seseorang memiliki 10 prestasi dan hanya satu kegagalan, mereka akan fokus pada kegagalan itu. Ini merupakan akar dari pikiran negatif pertama.
Akar kedua dari pikiran negatif adalah pola pikir 'Hitam Putih'. Kita cenderung berpikir sesuatu hanya hitam atau putih, sukses atau gagal, tanpa melihat nuansa di antaranya. Kita sering lupa bahwa ada banyak orang yang mungkin tidak sepenuhnya sukses, tapi juga tidak sepenuhnya gagal - bisa jadi mereka berada di suatu tempat di antara, setengah sukses atau hanya sedikit gagal. Kita selalu ingin segala sesuatu jelas, baik atau buruk, padahal kenyataannya, banyak situasi yang abu-abu, tidak sepenuhnya dapat dikategorikan sebagai baik atau buruk.
Dengan memahami dan mengenali akar dari pikiran negatif ini, kita bisa belajar untuk memandang dunia dengan cara yang lebih seimbang dan positif.
Meskipun kita sering berpikir dalam kategori hitam dan putih, seperti membedakan antara anak yang sholeh dengan yang tidak, realitasnya jauh lebih kompleks. Sebagai manusia, kita memiliki berbagai aspek dalam diri kita; tidak sepenuhnya baik atau buruk. Misalnya, seseorang mungkin menganggap dirinya hanya seperempat sholeh karena tiga perempat lainnya masih memiliki kekurangan. Namun, memiliki sebagian kebaikan juga merupakan hal yang berharga. Kita mungkin rajin dalam melakukan ibadah wajib seperti salat dan puasa, tetapi masih sering tergelincir dalam kebohongan atau kesalahan lainnya.
Pola pikir yang hanya membagi segala sesuatu menjadi hitam atau putih seringkali menyesatkan dan dapat mengarah pada pandangan yang terlalu negatif. Kita cenderung terjebak dalam pemikiran bahwa jika sesuatu tidak sepenuhnya baik, maka itu pasti buruk, atau jika tidak berhasil sempurna pada suatu hal, kita langsung menganggap diri kita gagal.
Selain itu, kita juga cenderung melakukan generalisasi berlebihan. Misalnya, jika seseorang datang terlambat ke kuliah, langsung dianggap sebagai mahasiswa yang malas, padahal keterlambatan itu hanya terjadi sekali. Kita juga sering terlalu keras kepada diri sendiri berdasarkan kesalahan kecil, seperti lupa menaruh kunci, dan langsung menilai diri sebagai orang yang ceroboh atau pelupa.
Penting untuk mengingat bahwa manusia secara alami tidak sempurna. Kita semua memiliki kelebihan dan kekurangan, dan seringkali membuat kesalahan atau lupa. Yang terpenting adalah bagaimana kita belajar dari kesalahan tersebut dan berusaha menjadi versi yang lebih baik dari diri kita tanpa harus terjebak dalam pemikiran negatif atau generalisasi yang berlebihan.
Salah dan lupa adalah bagian dari sifat manusia, sehingga argumen yang sering kita dengar memiliki intonasi yang berbeda-beda, namun pada dasarnya mengatakan hal yang sama. Hal ini mengingatkan kita untuk tetap positif dan tidak langsung berpikir negatif ketika menghadapi situasi serupa di hari berikutnya.
Ada tiga akar pemikiran negatif yang perlu kita waspadai: pertama, kecenderungan untuk hanya melihat sisi negatif; kedua, berpikir secara hitam putih atau melakukan generalisasi berlebihan; dan ketiga, terburu-buru dalam menyimpulkan. Gaya berpikir seperti ini seringkali menjerumuskan kita ke dalam sikap negatif, di mana kita mendasarkan seluruh pandangan kita hanya pada satu fakta.
Contoh dari kecenderungan ini termasuk menilai seseorang hanya dari satu aspek saja, misalnya menganggap seseorang bodoh hanya karena nilai akademisnya yang tidak bagus pada satu semester, tanpa mempertimbangkan kemungkinan adanya faktor luar biasa yang mempengaruhi. Atau, kita mungkin terlalu cepat menyimpulkan tentang pikiran orang lain terhadap kita, seperti merasa bahwa seorang dosen tidak menyukai kita hanya karena kita mendapatkan nilai jelek, atau mengira teman marah kepada kita tanpa mencari tahu faktanya terlebih dahulu.
Kita sering terburu-buru dalam membuat kesimpulan tentang perasaan orang lain terhadap kita, yang bisa jadi sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya, ketika kita mengambil keputusan yang kita pikir akan membuat orang lain kecewa atau marah, padahal sebenarnya mereka mungkin merasa bersyukur atau bahkan lega dengan keputusan tersebut.
Penting untuk tidak terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu, terutama jika berdasarkan asumsi yang cenderung negatif. Banyak situasi yang sebenarnya tidak seburuk yang kita bayangkan. Sebelum membuat kesimpulan, kita harus mencari tahu fakta yang sebenarnya. Dengan demikian, kita bisa menghindari kegelisahan yang tidak perlu dan memandang situasi dengan lebih objektif dan positif.
Menghadapi pikiran negatif seringkali membuat kita melihat situasi dalam cahaya yang paling buruk. Misalnya, kata "stroke" langsung mengingatkan kita pada bencana dan bahaya, atau ketika berpikir untuk mempelajari filsafat, kita langsung beranggapan bahwa itu adalah subjek yang sulit dan berat, yang tidak akan kita pahami. Pendekatan seperti ini, di mana kita langsung mengasumsikan kesulitan atau kegagalan, adalah contoh bagaimana pikiran kita dapat membentuk realitas kita menjadi sesuatu yang memang berat dan sulit.
Namun, mengapa kita tidak mencoba untuk memikirkan aspek positifnya saja? Sebagai contoh, jika nilai kita turun, kita bisa menganggapnya sebagai tanda bahwa kita perlu belajar lebih keras lagi, sebuah kesempatan untuk berkembang. Atau, jika kita kehabisan uang, kita bisa melihatnya sebagai peluang untuk tidak tergoda melakukan hal-hal yang mungkin tidak perlu, seperti ngopi atau nongkrong, dan memilih untuk mengaji yang tidak memerlukan biaya.
Bahkan dalam situasi sakit, bukan berarti kita harus langsung berpikir negatif. Bisa jadi, sakit memberikan kita 'rem' untuk istirahat, atau alasan untuk tidak masuk kuliah dan mengambil waktu untuk pemulihan.
Kemudian, ada pikiran negatif yang disebut personalisasi, di mana kita merasa bahwa segala sesuatu terjadi karena kita. Seperti ketika kita menonton pertandingan bulu tangkis atau sepak bola dan merasa bahwa tim kita kalah karena kita menonton. Ini adalah contoh dari personalisasi, di mana kita menganggap diri kita memiliki pengaruh negatif yang tidak realistis terhadap situasi.
Intinya, penting untuk selalu mencoba melihat sudut positif dari setiap situasi dan tidak terlalu cepat menyimpulkan atau mempersonalisasi situasi secara negatif. Dengan demikian, kita dapat menghindari terjebak dalam siklus pikiran negatif yang tidak hanya merugikan kita, tetapi juga tidak mencerminkan realitas sebenarnya.
Tidak perlu mengajak saya jika keikutsertaan saya sering kali dianggap membawa kegagalan. Ini merupakan contoh dari personalisasi, di mana Anda cenderung berpikir negatif.
Selain itu, ada kesalahan pemahaman yang sering terjadi, yaitu menganggap hal-hal di luar kendali kita sebagai sesuatu yang seharusnya bisa kita kontrol. Contohnya, dalam belajar, kemampuan kita untuk menjadi cerdas atau tidak adalah anugerah dari Allah, yang berarti di luar kemampuan kita untuk mengendalikan. Jadi, bukan kesalahanmu jika kamu tidak cerdas, tetapi jika kamu malas belajar, itu adalah kesalahanmu. Penting untuk membedakan antara hal-hal yang bisa kita kontrol dengan yang tidak bisa kita kontrol.
Dalam konteks lain, misalnya saat kamu menyatakan perasaan kepada seseorang, mengambil inisiatif untuk menyatakan perasaan adalah dalam kuasamu, tetapi diterima atau ditolaknya perasaanmu itu berada di luar kendalimu, karena itu adalah keputusan orang yang kamu tuju.
Jika kamu tidak bisa menerima kenyataan seperti ini, maka bisa jadi kamu akan terjebak dalam pemikiran negatif, menganggap dirimu sebagai penyebab dari penolakan atau kegagalanmu. Padahal, selama kamu tidak malas dan telah berusaha semaksimal mungkin, hasil apapun harusnya diterima dengan lapang dada karena banyak hal di luar kontrol kita.
Misalnya, kamu sudah berniat baik untuk mengikuti pengajian, sudah mengeluarkan motor, tetapi tiba-tiba menyadari bensinnya habis dan kamu tidak memiliki uang untuk mengisinya di malam hari, sehingga terpaksa kembali. Ini adalah contoh lain dari situasi yang berada di luar kendalimu.
Sudah tidak terduga, bensin habis tepat saat kita ingin pergi mengaji. Keinginan untuk mengaji tetap berada dalam kuasamu, namun terkadang terjadi hal-hal di luar kendali kita. Biasanya, orang yang cenderung berpikir negatif akan merasa bersalah atau beranggapan bahwa kejadian ini adalah bentuk hukuman atas kesalahan atau dosa yang pernah dilakukan. "Apa salahku? Apakah ini karena kemarin aku menyakiti hati temanku?" sering kali menjadi pertanyaan yang muncul. Padahal, sebenarnya banyak kejadian yang sederhananya berada di luar kendali kita. Yang terpenting adalah kita sudah melakukan apa yang bisa kita kontrol dengan maksimal.
Selain itu, ada kesalahan pemahaman terhadap sunnatullah (hukum alam). Misalnya, ketika seseorang mendapat nilai jelek dan berpikir, "Ah, saya mendapat nilai jelek, tapi tak apa. Toh, hidup ini memang tidak adil." Anggapan bahwa nilai jelek diterima karena ketidakadilan hidup, padahal mungkin karena kurangnya usaha belajar, merupakan pemahaman yang keliru. Sama halnya ketika seseorang berbuat salah kepada orang lain dan mendapat balasan, lalu berdalih, "Ya, ini adalah derita hidup." Atau ketika seseorang mengalami putus cinta karena kesalahannya sendiri, lalu menganggapnya sebagai penderitaan cinta yang tak berujung.
Dalam kedua situasi ini, terjadi kesalahan dalam memahami bahwa ada aspek dalam hidup yang berada di bawah kendali kita dan ada yang tidak. Kesalahan dan konsekuensi dari tindakan kita jelas berada dalam kendali kita, sementara ada hal-hal lain yang memang di luar jangkauan kita.
Seringkali, kita cenderung menjustifikasi kesalahan atau kekeliruan kita sebagai bagian dari takdir atau sunnatullah. Seolah-olah, keadaan atau nasib yang menjerumuskan kita ke dalam situasi tertentu, padahal pada kenyataannya, kita sendiri yang kurang serius dalam mengarahkan hidup ke jalan yang lebih baik. Akibatnya, kita terbawa ke situasi yang tidak diinginkan.
Contoh klasik adalah ketika Umar bin Khattab menangkap seorang pencuri. Pencuri tersebut berdalih bahwa aksinya adalah takdir dari Allah—jika Allah tidak mengizinkannya mencuri, bagaimana mungkin dia bisa melakukannya? Alasan yang diajukan pencuri ini cerdik, tetapi Umar mengajarkan pelajaran penting dengan mengatakan bahwa dia dipukuli juga merupakan bagian dari takdir. Ini menunjukkan bahwa menggunakan alasan takdir untuk menjustifikasi kesalahan kita tidaklah tepat.
Selain itu, ada pikiran negatif yang muncul dari kebiasaan menyalahkan orang lain atau mencari kambing hitam untuk setiap masalah yang terjadi. Alih-alih mengambil tanggung jawab atas kesalahan sendiri, beberapa orang lebih memilih untuk menyalahkan faktor eksternal atau orang lain.
Di sisi lain, ada juga yang berlebihan dalam mengkritik diri sendiri, hingga menjadi negatif. Kritik diri atau inner critic seharusnya berfungsi sebagai introspeksi untuk perbaikan, bukan sebagai alat untuk menurunkan harga diri sendiri. Kritik diri yang konstruktif bisa menjadi sekutu dalam pertumbuhan pribadi, sementara kritik yang selalu negatif hanya akan menyulitkan.
Jadi, sangat penting untuk membedakan antara hal-hal yang benar-benar di luar kendali kita dengan akibat dari tindakan kita sendiri. Dengan begitu, kita bisa mengambil langkah yang tepat untuk memperbaiki diri dan mengarahkan hidup ke jalan yang lebih baik tanpa terjebak dalam pembenaran yang salah.
Membina hubungan yang mendukung dengan diri sendiri adalah kunci untuk mengatasi pikiran negatif dan memperkuat kepercayaan diri. Ada dua ciri utama yang menunjukkan bahwa seseorang menjadikan dirinya sendiri sebagai lawan:
1. Fokus pada Negatif. Orang yang selalu mengingat-ingat kegagalannya, jatuhnya, atau momen ketika ia mengecewakan atau dikecewakan. Jika Anda terus-terusan mengingat hal-hal negatif dalam hidup, Anda pada dasarnya menjadi musuh bagi diri sendiri. Sikap ini tidak akan membawa kebahagiaan atau kemajuan dalam hidup. Sebaliknya, belajarlah untuk mengakui kegagalan sebagai bagian dari proses belajar dan pertumbuhan.
2. Terlalu Memperhatikan Komentar Orang Lain. Menjadi seseorang yang mudah terombang-ambing oleh pendapat atau komentar orang lain juga bisa menjadikan Anda musuh bagi diri sendiri. Misalnya, Anda berubah-ubah hanya karena saran orang tentang apa yang harus dipakai, atau Anda terlalu memikirkan bagaimana orang lain memandang Anda, sampai-sampai Anda kehilangan esensi dari diri Anda sendiri.
Jika Anda tipe orang yang mudah terpengaruh oleh komentar dari luar, ingatlah bahwa tidak semua komentar perlu diambil hati. Dengarkan, pertimbangkan, dan tentukan mana yang relevan dan mana yang tidak. Terima kasih atas saran yang diberikan, tetapi tetaplah memiliki persepsi sendiri dan berpegang teguh pada apa yang Anda percayai.
Membangun jiwa yang menjadi teman bagi diri sendiri berarti kita tidak hanya diombang-ambingkan oleh pandangan atau komentar dari luar. Sebaliknya, kita menguatkan diri sendiri, mengetahui kapan harus mendengarkan dan kapan harus membiarkan pendapat orang lain tidak mempengaruhi kita secara negatif. Ini adalah cara untuk hidup dengan lebih tenang dan berpusat pada apa yang benar-benar penting bagi kita.
Yakinlah bahwa melangkah terus adalah pilihan yang baik; tidak perlu terlalu mempedulikan kata orang lain. Inilah sekutu yang baik bagi kita. Selanjutnya, "inner ally" kita juga harus percaya diri dan tidak mudah merasa rendah diri. Orang yang percaya diri tidak mudah dipengaruhi karena mereka memiliki tujuan yang jelas dan menyadari proses apa saja yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Berbeda dengan "inner critic" yang cenderung terjebak dalam kegelisahan karena kelemahan, "inner ally" kita justru menyoroti sisi positif dari diri kita. Misalnya, meskipun nilai kita tidak memuaskan, kita masih bisa bersyukur dan tetap semangat melihat sisi positifnya. Atau, meski sampai usia tertentu kita masih sendiri, tidak masalah, karena kita adalah seorang yang bahagia dengan kesendirian itu. Itulah cara melihat sisi positif dari diri kita sendiri.
Saat "inner critic" muncul karena sebuah masalah kecil, membuat kita panik dan merasa dunia gelap, bertanya-tanya bagaimana lagi harus bertindak atau siapa yang peduli tentang kita—itu adalah contoh dari "inner critic" yang penuh dengan kegalauan.
Mari kita membentuk diri kita untuk menjadi teman bagi diri sendiri. Jangan biarkan kita menjadi musuh bagi diri kita sendiri. Jadikanlah sisi dalam diri kita sebagai pendukung yang kuat, karena sejatinya, ia yang paling mengerti kita.
Baik, mari kita lanjutkan. Berikut ini beberapa tips untuk mengatasi pikiran negatif:
Pertama, mari kita akui. Mengakui bahwa kita sering memiliki pikiran negatif bukanlah hal yang buruk. Pengakuan ini penting karena tanpa mengakui masalah, kita tidak bisa memperbaikinya. Jadi, jika Anda sering berpikir negatif, terimalah hal tersebut sebagai langkah awal untuk berubah.
Setelah mengakui, luangkanlah waktu sejenak untuk merenung: Mengapa saya sering berpikir negatif? Dari mana asal usul pikiran-pikiran ini? Cobalah untuk mengerti asal-muasal pikiran negatif Anda. Kemudian, tanyakan pada diri sendiri, apa manfaat dari pikiran-pikiran ini bagi saya? Apakah benar-benar ada bukti yang mendukung pikiran-pikiran ini, atau apakah ini hanya ketakutan saya saja?
Selanjutnya, tanyakan pada diri Anda, apakah pikiran negatif ini benar-benar tidak dapat diatasi atau diubah? Jawabannya tentu saja, bisa. Pertimbangkan juga apakah Anda memerlukan bantuan orang lain untuk mengatasi pikiran-pikiran negatif ini.
Dengan langkah-langkah ini, Anda dapat mulai menghadapi dan mengurangi pikiran negatif yang sering muncul dalam diri Anda.
Mari kita jawab pertanyaan-pertanyaan ini untuk menangkal pikiran negatif. Setelah menjawab, kita akan mengerti asal-usul pikiran tersebut. Langkah ketiga, yakni reframing, membantu kita untuk melihat dari sisi positif. Malam ini, kita fokus pada membersihkan pikiran negatif, yang meliputi pengakuan, penilaian, dan pembentukan ulang perspektif positif. Dengan demikian, saat memasuki bulan Ramadan, kita akan memiliki pandangan yang lebih jernih dan positif.
Untuk melatih diri berpikir positif, langkah pertama adalah mengenali kelebihan dan keberhasilan kita. Ingatlah, tidak ada orang yang selalu hidup dalam negativitas; pasti ada momen-momen positif yang pernah dialami. Jika perlu, tulislah kelebihan-kelebihan tersebut pada selembar kertas atau dalam buku catatan. Setiap orang pasti memiliki kelebihan, jadi jangan ragu untuk mencatatnya.
Memang, ada banyak kemungkinan yang mungkin belum kita sadari. Jika kita lebih teliti, mungkin kita akan menemukan, "Oh, ternyata saya ini tipe orang yang seperti ini, tipe orang yang seperti itu." Cobalah untuk menuliskan hal-hal tersebut. Ini akan membawa kita pada rasa syukur, menyadari bahwa dari sekian banyak kelebihan yang kita miliki, hanya ada sedikit kekurangan. Lantas, mengapa selama ini kita sering merasa murung?
Tidak masalah untuk berlatih menulis, meskipun tulisan tersebut hanya untuk diri sendiri dan disimpan agar tidak dibaca orang lain. Mungkin kita malu jika orang lain membacanya, tapi yang terpenting adalah kita bisa melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Apa saja kelebihan kita? Apa saja pencapaian yang telah kita raih? "Alhamdulillah, saya bisa lulus TK tepat waktu," itu juga sebuah prestasi. Mungkin ada yang tidak lulus TK tepat waktu. "Saya selalu berhasil menghabiskan uang kiriman orang tua tiap bulan, Alhamdulillah. Berarti kirimannya berkah," bukan? Itu juga bisa dianggap sebagai keberhasilan. Bahkan, "Saya berhasil membuat dosen saya marah," bisa jadi itu sesuatu yang bisa kamu refleksikan.
Tuliskan hal-hal tersebut. Untuk apa? Agar kita bisa belajar bersyukur, terutama jika kita merasa sulit menemukan kelebihan atau pencapaian hidup kita. Cara mudah untuk merasa bersyukur adalah dengan membandingkan diri kita dengan orang yang kondisinya lebih sulit daripada kita. Ini bukan tentang merendahkan orang lain, tapi tentang menemukan perspektif yang membuat kita lebih menghargai apa yang kita miliki.
Ada banyak hal yang bisa kita syukuri dalam hidup. Mungkin kamu masih sehat, masih bisa tertawa, dan masih bisa menikmati hidup. Menyadari hal-hal positif ini bisa mengubah pandangan kita dari negatif menjadi positif. Penting juga untuk memilih lingkungan yang mendukung, temukan teman-teman yang memiliki pandangan positif. Jika kamu dikelilingi oleh orang-orang negatif, lama-kelamaan kamu bisa terpengaruh. Carilah teman yang membuatmu merasa baik, yang selalu memotivasi dan memberikan energi positif.
Selanjutnya, praktikkan afirmasi diri yang positif. Bicaralah hal-hal yang baik kepada diri sendiri, bukan hanya kepada orang lain. Hindari kalimat-kalimat yang merendahkan diri sendiri, seperti "Aku ini bodoh" atau "Aku ini malas". Gantilah dengan pernyataan yang lebih positif. Misalnya, ganti "Aku ini malas" dengan "Aku menikmati waktu istirahatku". Ini bukan tentang menghindari realitas, tetapi tentang memandang diri sendiri dengan cara yang lebih baik dan konstruktif.
Jaga kesehatanmu, karena tanpa kesehatan, segalanya menjadi lebih sulit. Tetaplah sehat agar kamu bisa lebih mudah merasa positif dan rileks. Jangan lupa untuk menambahkan sedikit humor dalam hidupmu; tidak perlu selalu serius. Sedikit tawa dapat membuat hidup terasa lebih ringan. Ingat, hidup itu mengalir. Nikmati saja, biarkan ada humor, dan jangan terlalu keras pada diri sendiri.
Nikmatilah setiap proses dalam hidup, yang penuh dengan berbagai warna; ada saatnya serius, lucu, dan begitu pula dengan tantangan dan kegembiraan. Hidup memang tidak monoton; ia kaya dengan berbagai rasa dan pengalaman. Jika Anda terlalu serius atau selalu mencari humor tanpa henti, mungkin ada sesuatu yang berlebihan dalam pendekatan Anda. Secara alami, hidup berfluktuasi antara suka dan duka, serius dan santai, serta penuh dengan pelajaran baru. Oleh karena itu, terbukalah untuk belajar hal-hal baru yang menarik, agar Anda tidak terperangkap dalam pikiran negatif lama.
Setelah membersihkan pikiran negatif, isi kembali dengan yang positif, memulai dengan cara-cara yang telah disebutkan. Lanjutkan dengan menjelajahi kepositifan alami yang dimiliki anak-anak. Anak-anak cenderung berpikir sangat positif; mereka penasaran tentang segalanya, ingin mencoba segala hal, dan sering kali melakukan hal-hal yang cerdas maupun konyol. Mereka mungkin bertengkar dengan teman sebaya, tetapi segera saja mereka berbaikan. Jika mereka jatuh, mereka bangkit lagi; jika gagal, mereka penasaran untuk mencoba lagi. Anak-anak mungkin merasa kecewa, tapi mereka cepat menemukan harapan baru. Mereka mungkin merasa takut, tapi tak lama kemudian, mereka kembali ceria. Jika sedih, mereka menangis, tapi segera mereka lupa dan tertawa lagi. Keadaan alami dan kepositifan anak-anak ini sangat berharga untuk kita pelajari dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai orang dewasa.
Ketika kita dewasa dan menghadapi kegagalan, seringkali proses untuk bangkit kembali terasa berat dan lama. Kita mungkin merasa putus asa, mengeluh, atau bahkan menyimpan dendam yang berkepanjangan. Sebaliknya, anak-anak memiliki kemampuan luar biasa untuk cepat pulih dari konflik. Misalnya, setelah bertengkar, mereka bisa segera berbaikan, sementara orang dewasa yang terlibat masih terjebak dalam pertengkaran. Ini menunjukkan kepositifan alami anak-anak yang membuat hidup terasa lebih ringan.
Anak-anak jarang bersikap sinis atau pesimis; pikiran mereka cenderung selalu positif. Fakta ini mengindikasikan bahwa pikiran negatif bukanlah bagian alami dari fitrah kita; lebih sering, itu adalah hasil dari pengaruh eksternal. Kita secara murni cenderung positif, seperti yang terlihat pada anak-anak yang belum banyak terpengaruh oleh dunia luar.
Anak-anak tidak mengenal rasa putus asa yang berkepanjangan atau melihat dunia sebagai tempat yang suram. Mereka mungkin merasa kecewa jika keinginan mereka tidak terpenuhi, menangis sejenak, tetapi kemudian dengan cepat kembali ceria dan tertawa. Ini mengajarkan kita tentang belajar positivitas dari anak-anak.
Jadi, mari kita ambil pelajaran dari cara anak-anak mengatasi pemikiran negatif. Mereka mengingatkan kita bahwa pada dasarnya, kita semua memiliki kemampuan untuk melihat dunia dengan penuh harapan dan kegembiraan, meskipun kita mungkin perlu mengingat kembali dan mempraktikkannya dengan lebih sadar sebagai orang dewasa.