PHP - Perbedaan Fungsi include() dan requare_once()

PHP - Perbedaan Fungsi include() dan requare_once()

Di dalam bahasa pemrograman PHP, baik `include` maupun `require_once` digunakan untuk memasukkan (include) kode dari file eksternal ke dalam skrip PHP yang sedang dieksekusi. Namun, ada beberapa perbedaan penting antara keduanya:

1. include: Ini adalah perintah untuk memasukkan kode dari file eksternal ke dalam skrip PHP. Jika file yang di-include tidak ditemukan, PHP akan menghasilkan peringatan (warning) tetapi eksekusi skrip akan terus berlanjut.

Contoh penggunaan:






2. require_once: Ini juga digunakan untuk memasukkan kode dari file eksternal, tetapi dengan perbedaan utama bahwa jika file yang direquire tidak ditemukan, PHP akan menghasilkan kesalahan serius (fatal error) dan menghentikan eksekusi skrip.

Contoh penggunaan:




Perbedaan utama antara `include` dan `require_once` adalah pada cara mereka menangani kesalahan jika file eksternal tidak ditemukan. Jika Anda ingin memastikan bahwa file eksternal selalu dimasukkan dan kesalahan fatal terjadi jika file tidak ditemukan, maka `require_once` adalah pilihan yang lebih aman. Namun, jika Anda ingin melanjutkan eksekusi skrip bahkan jika file eksternal tidak ditemukan, maka `include` bisa digunakan.

Selain itu, kata kunci `_once` dalam kedua perintah tersebut menunjukkan bahwa file yang di-include atau direquire hanya akan dimasukkan satu kali. Artinya, jika file tersebut sudah di-include atau direquire sebelumnya, PHP akan mengabaikan perintah tersebut.

Contoh penggunaan `require_once` untuk memastikan file hanya dimasukkan sekali:







Dalam praktiknya, sebaiknya Anda menggunakan `require_once` atau `include_once` ketika memasukkan file yang memiliki definisi kelas atau fungsi yang mungkin sudah dimasukkan dari tempat lain. Namun, jika Anda yakin bahwa file hanya akan dimasukkan sekali dan tidak akan ada masalah jika terjadi pengulangan, Anda bisa menggunakan `require` atau `include` tanpa `_once`.

Share:

Mengatasi Foxit Reader Lama Membuka File PDF

Mengatasi Foxit Reader Lama Membuka File PDF

Pernah atau sedang menghadapi masalah membuka file PDF menggunakan Foxit PDF Reader, tapi loading untuk membuka file tersebut terasa lama atau agak lama? Intinya adalah, merasakan hal yang tidak wajar, karena dengan spesifikasi komputer yang dimiliki, tidak mungkin hanya membuka file PDF apalagi ukurannya sangat kecil membutuhkan beberapa saat untuk menampilkan isi dari file PDF tersebut.

Jika iya, berikut adalah langkah-langkah untuk mengatasinya.

  1. Buka Foxit PDF Reader. Bisa dengan membuka salah satu file PDF yang kita miliki.
  2. Pada layar Foxit PDF Reader yang terbuka, pilih menu File - Preference
  3. Pada layar dialog Preference yang muncul, cari menu Reading kemudian buang centang pada pilihan Enable asistive technology support dan Confirm before preparing untagged PDF for reading with asistive technology seperti pada gamber berikut: 


 Tutup Foxit PDF Reader, kemudian coba buka kembali.


Share:

Jurnal Refleksi Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional

Hari ini saya akan merefleksikan materi modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional yang telah saya pelajari. Saya akan menggunakan model 4F, yaitu Facts, Feelings, Findings, dan Future, untuk menyusun jurnal refleksi ini.

Facts:

Pada modul ini, saya belajar tentang pentingnya pembelajaran sosial dan emosional bagi siswa. Saya memahami bahwa pembelajaran sosial dan emosional dapat membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial, seperti kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan bekerja sama dengan orang lain. Saya juga belajar tentang pentingnya mengajarkan siswa untuk mengatur emosi mereka dan belajar mengatasi masalah.

Feelings:

Saya merasa terkesan dengan materi ini dan merasa bahwa ini adalah hal yang sangat penting untuk dipelajari oleh siswa. Saya merasa senang karena saya dapat memahami bagaimana pembelajaran sosial dan emosional dapat membantu siswa untuk menjadi individu yang lebih baik dan memiliki keterampilan sosial yang lebih baik. Saya juga merasa sedih karena saya menyadari bahwa tidak semua siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar keterampilan sosial dan emosional ini.

Findings:

Dari materi ini, saya menemukan bahwa pembelajaran sosial dan emosional harus diberikan dengan cara yang menyenangkan dan menarik bagi siswa. Saya juga menemukan bahwa penggunaan model pembelajaran yang inklusif dan kolaboratif sangat penting dalam pembelajaran sosial dan emosional. Selain itu, saya menemukan bahwa penting untuk memberikan dukungan dan bantuan kepada siswa yang mengalami masalah sosial dan emosional.

Future:

Saya berharap untuk dapat mengimplementasikan pembelajaran sosial dan emosional di kelas saya dan membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosional mereka. Saya juga berharap untuk terus belajar dan memperdalam pengetahuan saya tentang pembelajaran sosial dan emosional sehingga saya dapat memberikan pengajaran yang lebih baik dan efektif bagi siswa saya.

Selain itu, saya juga berencana untuk mencari lebih banyak sumber daya dan bahan ajar yang relevan dan bermanfaat untuk pembelajaran sosial dan emosional, seperti buku, jurnal, atau materi pelatihan. Saya juga akan berbicara dengan rekan kerja dan pengajar lainnya untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam mengajar pembelajaran sosial dan emosional.

Saya juga akan mengajak siswa untuk lebih banyak berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan emosional, seperti kegiatan penggalangan dana, kegiatan sosial, atau kegiatan relawan. Saya akan membimbing siswa dalam mengembangkan keterampilan sosial dan emosional mereka melalui kegiatan tersebut.

Kesimpulannya, materi modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional memberikan wawasan yang berharga bagi saya tentang pentingnya pembelajaran sosial dan emosional bagi siswa.

Dengan menggunakan model 4F, saya dapat merefleksikan apa yang telah saya pelajari, bagaimana saya merasa tentang itu, temuan-temuan saya, dan apa yang akan saya lakukan selanjutnya untuk menerapkan pembelajaran sosial dan emosional dalam pengajaran saya.

Saya berharap bahwa melalui pengajaran yang inklusif dan kolaboratif, saya dapat membantu siswa saya untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosional mereka dan menjadi individu yang lebih baik di masa depan.




Share:

Refleksi Kegiatan Lokakarya 4 - Penguatan Praktik Coaching

Saya senang dapat merefleksikan kegiatan lokakarya 4 tentang Penguatan Praktik Coaching calon guru penggerak. Lokakarya ini bertujuan untuk membekali calon guru penggerak dengan keterampilan coaching yang efektif sehingga mereka dapat memfasilitasi pembelajaran yang lebih baik bagi siswa dan guru di sekolah mereka. 

Share:

Refleksi Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademis

Refleksi Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademis


Pada refleksi kali ini, saya akan melakukan refleksi modul 2.3 dengan model Six Thinking Hats (Teknik 6 Topi) . 

Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademis dengan model Six Thinking Hats (Teknik 6 Topi) merupakan modul yang sangat bermanfaat bagi calon guru penggerak dalam memperdalam pemahaman dan keterampilan mereka dalam melakukan supervisi akademis.

Share:

Konekasi Antar Materi Modul 3.2

Konekasi Antar Materi Modul 3.2

Sekolah adalah sebuah ekosistem dimana di dalamnya ada interaksi satu sama lain, saling mempengaruhui, saling membutuhkan, saling mendukung antara ekosistem biotik (unsur yang hidup) dan ekosistem abiotik (unsur yang tidak hidup), sehingga diharapkan dapat tercipta hubungan yang selaras dan harmonis. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah: peserta didik, Kepala Sekolah, Guru, Staf/Tenaga Kependidikan, Pengawas Sekolah, Orang Tua, Masyarakat sekitar sekolah. Selain faktor-faktor biotik, faktor-faktor abiotik juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah: Keuangan, Sarana dan prasarana, gedung dll.

Share:

Koneksi Antar Materi Modul 3.1

Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best. 
“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Bob Talbert)

Pendidikan adalah suatu proses yang sistematis dan terencana yang tidak hanya mengajarkan kepada peserta didik teori/materi/isi, tetapi mengajarkan semua itu bagaimana cara merasuk ke dalam pikiran dan jiwanya sehingga berdampak pada kehidupan, perilaku dan karakternya, karena manusia lebih beradab dengan berilmu. Pengetahuan yang baik didasarkan pada karakter yang baik sehingga peserat didik dapat hidup bahagia dan nyaman.

Seorang pendidik harus mampu menjadi teladan utama bagi anak didiknya, dengan keteladanan tutur kata dan perbuatan yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi seorang guru berarti kita bersedia menjadi panutan segala kebajikan kepada anak didik kita dan seluruh warga sekolah kita, bahkan di lingkungan tempat kita tinggal.

Sebagai pendidik, kita harus dapat memberikan kontribusi kepada sekolah, setiap keputusan yang kita ambil harus bermanfaat bagi peserta didik berdasarkan nilai-nilai yang baik. Pendidik diminta menyampaikan kebenaran dan keteladanan.

Hal ini sesuai dengan kata bijak berikut ini:

"Pendidikan adalah seni membuat orang berperilaku etis."
(Georg Wilhelm Friedrich Hegel).

Pahami pepatah bijak ini, Pendidikan adalah proses membimbing peserta didik untuk membangun karakter dan standar dirinya agar menjadi generasi yang memiliki nilai-nilai moral, kebajikan dan kebenaran untuk melangsungkan kehidupannya. Generasi penerus merupakan cerminan dari pendidikan saat ini yang sedang kita asah seolah-olah kita sedang menciptakan karya-karya terhebat yang akan menghiasi negeri ini di masa depan.

Berangkat dari kalimat bijak tersebut, berikut adalah koneksi antar materi yang coba saya buat sebagai bagian dari tugas CGP pada LMS modul 3.1

1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Ki Hajar Dewantara dengan filosofi trilokanya mempengaruhi bagaimana seorang guru mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Semboyan yang dicanangkan KHD dan sampai saat ini masih menjadi anutan para pendidik adalah Ing Ngarso Sung Tulodho (Pemimpin harus bisa memberi contoh), Ing Madya Mangunkarsa (Pemimpin juga harus bisa memberi contoh). dorongan, semangat dan motivasi dari lingkungan), Tut Wuri handayani (seorang pemimpin harus bisa memberi semangat dari belakang), artinya seorang pemimpin (guru) harus bisa memimpin dengan keteladanan dan memberikan semangat dan motivasi dari sarana pula. sebagai dorongan dari belakang untuk kemajuan peserta didik. Kita bisa menciptakan semboyan fenomenal dan sarat makna yang melandasi setiap keputusan untuk tetap berpihak pada peserta didik untuk menciptakan generasi cerdas dan berani pada profil pelajar Pancasila. Hal ini bisa kita lakukan saat pembelajaran di sekolah. Pendidik tidak hanya menyampaikan isi program, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai etika pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab meskipun dihadapkan pada dilema moral.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, dan keterampilan relasional akan terwujud dengan memberikan dorongan spiritual dan material kepada semua warga sekolah. Nilai-nilai etika yang tertanam dalam diri pendidik akan menghiasi setiap keputusannya. Sebagai orang beragama, haruslah yakin dan percaya bahwa apapun yang dilakukan, suatu saat harus bertanggung jawab dan dipertanggung jawabkan. Nilai kejujuran dan integritas seorang pendidik akan tercermin dalam panutan dan kebijakan yang memandu setiap keputusan yang diambil. 

3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Sebagai pendidik, guru harus memiliki keterampilan coaching. Ketrampilan Ini sangat membantu dalam pengambilan keputusan. Kegiatan 'coaching' fasilitator selama proses pembelajaran sangat efektif membantu memahami, terutama dalam pengambilan keputusan eksperimental. Beberapa contoh praktik pembinaan yang baik memberikan gambaran yang komprehensif untuk diterapkan di sekolah. Keputusan dengan teknik pembinaan yang berlandaskan etika, nilai peduli, selaras dengan visi dan misi sekolah bermanfaat bagi peserta didik dan menciptakan budaya positif di lingkungan sekolah.

Teknik Coaching yang setara dan tidak konfrontatif akan menimbulkan rasa nyaman sehingga Coach dapat mengidentifikasi masalah dan dapat menyampaikan pertanyaan-pertanyaan penting dari orang yang di-coach. Pembina tahu cara mengomunikasikan kendala dan bisa menemukan solusi yang tepat karena pelatih tahu cara mendengarkan. Hal ini penting karena pada akhirnya menciptakan situasi yang menguntungkan dan dapat meningkatkan kinerja mahapeserta didikdan staf. Ketrampilan coaching juga dapat menumbuhkan kreativitas dan inovasi peserta didik. Dengan pembinaan, guru dapat mengatasi masalah yang dihadapi peserta didik dalam proses pembelajaran. Sebagai pembina yang baik, guru mengharapkan semua pesrat didik mampu melaksanakan segala tugas dan kewajiban yang dibebankan kepadanya di sekolah dengan memperhatikan kodrat zaman dan fitrahnya. 

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Kesadaran sosial emosional dan kemampuan manajemen guru sangat memengaruhi dalam pengambilan keputusan. Emosional boleh saja mewarnai setiap keputusan yang diambil, namun para pendidik menyadari bahwa setiap keputusan harus dilandasi oleh nilai-nilai etika dan peraturan yang ada serta dapat menggunakan filter menyelesaikan masalah atau pengambilan keputusan dengan 9 langkah teori pengambilan keputusan. Dengan landasan ini, kita dapat membedakan dilema etika atau dilema moral. Sosiopati akan mengembangkan empati dan simpati kepada kita sebagai pendidik. Dengan rasa simpati dan empati kita dapat merasakan apa yang dialamai oleh orang lain, sehingga mengidentifikasi dapat masalah dengan bijak, dan ketika mengambil keputusan, dapat mengarahkan untuk menciptakan terobosan-terobosan Inovasi dan kreativitas sebagai solusi alternatif dalam setiap keputusan. Sebagai pemimpin pembelajaran, setiap keputusan harus menguntungkan berpihak pada peserta didik, berdasarkan etika dan nilai-nilai moral dengan memetakan 4 paradigma dilema etika, yaitu pribadi versus masyarakat, rasa keadilan versus kasih sayang, kebenaran versus kesetiaan, dan jangka pendek versus jangka panjang. Pengambilan keputusan juga menganut 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu result based, rule based, dan prinsip benevolent. Dan dipadukan dengan 9 langkah pengambilan keputusan. Kesembilan keputusan tersebut adalah: 

  1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
  2. Menentukan siapa saja yang terlibat
  3. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan
  4. Pengujian benar atau salah yang didalamnya terdapat uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, uji keputusan panutan/idola
  5. Pengujian paradigma benar lawan benar
  6. Prinsip Pengambilan Keputusan
  7. Investigasi Opsi Trilemma
  8. Buat Keputusan
  9. Tinjau lagi keputusan Anda dan refleksikan

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pembahasan studi kasus yang fokus pada persoalan etika atau moral akan semakin membangun empati dan pemahaman pendidik. Simpati dan empati yang terlatih akan mampu mengidentifikasi dan memetakan pola dilema etika sehingga pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran menjadi lebih bijaksana. Tentu saja, perasaan empati dan kemampuan untuk mengatur diri sendiri secara sadar akan sangat memengaruhi pengambilan keputusan. Selain itu, pembahasan studi kasus yang fokus pada persoalan etika atau moral juga dapat membentuk ketajaman dan ketelitian dalam pengambilan keputusan, sehingga dapat membedakan dengan jelas antara dilema etika dan dilema moral. Keputusan yang diambil akan lebih akurat dan menjadi keputusan yang dapat memenuhi kebutuhan peserta didik serta menciptakan keselamatan dan kebahagiaan bagi semua pihak berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan kebajikan.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Keputusan yang dibuat akan berdampak pada prestasi akademik dan akan mempengaruhi situasi / kondisi di sekolah. Setiap keputusan yang dibuat harus adil dan terinformasi, berdasarkan nilai-nilai etika, menjadi teladan, bijaksana, dan tidak melanggar standar aturan yang sudah disepakati. Dengan landasan ini, harusnya mampu menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman dimana peserta didik dapat belajar dengan baik dan dapat mengembangkan kemampuannya, berprestasi, ceria, cerdas dan berkepribadian yang kuat.  

7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Pengambilan keputusan didasarkan pada tiga prinsip pemecahan dilema yang digunakan, Pemikiran Berbasis Tujuan, Pemikiran Berbasis Aturan atau Pemikiran Berbasis Minat. Semua tergantung situasi dan kondisi yang ada. Namun setiap keputusan memiliki resiko, pro dan kontra, yang merupakan salah satu kelebihan dan kekurangannya. Tantangan yang saya hadapi saat mengambil keputusan tentang dilema etika adalah tidak mungkin menyenangkan semua pihak, padahal menyenangkan semua pihal adalah win win solution, meski sulit untuk di lakukan. Namun dengan melakukan 9 Langkah Pengambilan Keputusan akan mampu meminimalisir ketidaknyamanan dan keputusan yang dibuat dapat kemungkinan besar akan diterima oleh semua pihak. 

8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Efek dari keputusan yang kita buat dalam mengajar untuk memerdekakan peserta didik kita adalah kebebasan menentukan gaya belajar, bukan bebas untuk belajar. Kebebasan menentukan gaya belajar berarti peserta didik bebas untuk mencapai keberhasilan dan kebahagiaan sesuai dengan minat dan potensinya dalam mempelajari materi pembelajaran tanpa ada paksaan atau tekanan dari pihak manapun. Pendidik yang baik akan selalu berharap pada kesuksesan meraka di bidangnya, bahagia karena bisa melakukan apa yang mereka inginkan dan bertanggung jawab atas apa yang mereka pilih. Dengan kata lain, setiap keputusan harus bermanfaat bagi peserta didik dan pendidik memiliki fungsi memfasilitasi dan memoles bakat dan minat yang dimilki.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Setiap keputusan yang diambil akan memberikan dampak jangka pendek dan jangka panjang bagi peserta didik. Semuanya akan tersimpan dalam memori dan akan menjadi model bagaimana peserta didik berpikir dan berperilaku. Bagaimana dia akan membuat keputusan dalam masyarakat di masa depan. Pengambilan keputusan pendidik harus keputusan yang baik, benar, tepat dan terinformasi melalui pengujian baik dan buruk dengan lima pengujian yaitu pengujian hukum, pengujian regulasi, pengujian fisik Editing, pengujian penerbitan dan pengujian model atau pengujian idola akan membantu membuat keputusan menjadi bisa diterima oleh semua pihak. Dengan bentuk pengujian ini sebelum di informasikan, diharapkan keputusan yang dibuat akan semakin mengarahkan peserta didik meraih masa depan sesuai dengan minat, bakat dan cita-citanya.

10. Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir yang saya ambil dari mempelajari modul ini dan hubungannya dengan modul sebelumnya adalah bahwa pengambilan keputusan yang baik merupakan keterampilan atau kompetensi yang harus menjadi milik guru dan harus didasarkan pada filosofi Ki Hajar Dewantara. Secara sadar, keputusan yang diambil oleh pendidik akan mewarnai pola pikir dan karakter peserta didil. Sekolah sebagai lembaga yang menanamkan ilmu dan karakter selalu memberikan pelayanan kepada peserta didik tentunya harus selalu memberi keputusan yang mempengaruhi masa depannya agar lebih baik. Guru sebagai pemimpin pembelajaran secara sadar mengambil keputusan, mengutamakan aturan kesepakatan kelas, keyakinan kelas untuk menciptakan karakter dan budaya positif di kelas. 

Pengambilan keputusan hendaknya bertujuan untuk menciptakan budaya positif dan dengan menggunakan arur BAGJA akan menghasilkan lingkungan (kebahagiaan) yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Suasana ini akan berpengaruh pada peningkatan keterampilan pendidik dan peserta didik. Saat memutuskan sesuatu, pendidik harus memiliki kesadaran (mindfulness) untuk membebaskan peserta didik, peserta didik yang cerdas berkarakter, menuju profil pelajar pancasila sesuai harapan kita semua. Di sepanjang jalur rekam pelajar pancasila terdapat banyak dilema etika dan dilema moral, sehingga dibutuhkan panduan 9 langkah pengecekan dan pengambilan keputusan untuk memutuskan dan menyelesaikan suatu masalah agar keputusan tersebut bermanfaat bagi peserta didil untuk mencapai belajar mandiri. 

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan salah satu bentuk pembelajaran mandiri karena dengan pembelajaran differensiasi kebutuhan peserta didik terpenuhi sesuai dengan bakat, minat, dan kecenderungan gaya belajarnya. Pembelajaran ekstrakurikuler juga merupakan salah satu langkah yang dilakukan untuk membentuk kepribadian yang berprofol pancasila. Tema dan dimensi yang berbeda disiapkan agar peserta didik dapat mengenalkan diri dengan nilai-nilai positif dan akhirnya menjadi kebiasaan. 

11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan? 

Yang saya pelajari dan pahami dari modul ini adalah 4 paradigma pengambilan keputusan, yaitu: 

  1. Individu lawan masyarakat
  2. kebenaran lawan kesetiaan
  3. keadilan VS belas kasihan
  4. Jangka Pendek VS jangka panjang

3 prinsip mengambil keputusan

  1. berfikir berbasis akhir
  2. berfikir berbasi aturan
  3. berfikir berbasi  rasa peduli

dan 9 tahapaan pengambilan dan pengujian keputusan

  1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang salingbertentangan
  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
  3. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini
  4. Pengujian benar atau salah (uji legal, uji regulias, uji instuisi, uji publikasi, uji panutan/idola)
  5. Pengujian paradigma benar atau salah
  6. Prinsip pengambilan keputusan
  7. Investigasi tri lema
  8. Buat keputusan
  9. meninjau kembali keputusan dan refleksikan

yang diluar dugaan adalah ternyata dalam memutuskan dilema etika atau dilema moral terdapat teori-teori yang bisa dijadikan acuan / pegangan sebelum keputusan itu benar-benar di ambil atau dibuat, yaitu 4 paradigma, 3 prinsip dan melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan seperti yang sudah disebutkan diatas. Selama ini saya berpikir terlalu cepat dan reaktif sehingga keputusan yang saya ambil terkadang alih-alih bisa menyelesaikan masalah, yang ada terkadang kontra produktif dan menimbulkan permusuhan.

12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Pernah. Keputusan yang saya ambil cenderung responsif dan berdasarkan pengalaman hidup yang saya alami. Tetapi setalah saya mempelajari modul ini, saya menjadi mengerti bahwa jika saya di hadapkan pada dilema etika atau dilema moral pada saat harus membuat keputusan, saya akan selalu memperhatikan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan agar keputusan yang di ambil bena-benar tidak berpihak dan bisa membawa hasil akhir yang jauh lebih solutif dan lebih baik.

13. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini? 

Dampak yang saya dapatkan setelah saya belajar modul ini, saya menjadi lebih bijak dalam memutuskan sesuatu khususnya jika berhadapan dengan keputusan yang melibatkan dilema etika dan dilema moral. Tidak langsung mengeksekusi masalah dengan responsif, tidak reaktif, tapi benar-benar mempertimbangkan sesuai dengan yang sudah dipelajari pada modul ini.

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin? 

Sangat penting. 

Sebagai individu, saya juga mahluk sosial, yang selalu berinteraksi dengan orang lain. Keputusan saya sebagai individu, akan berdampak pada kehidupan sosial saya, baik untuk saat ini, maunpun yang akan datang.

Sebagai pemimpin, keputusan yang saya buat, akan berdampak pada orang-orang yang saya pimpin, sehingga dengan mempelajari topik-topik pada modul ini, membuat pribadi saya sebagai pemimpin menjadi lebih bijak dalam membuat keputusan.

Share:

Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.1

Pada refleksi dua mingguan Modul 3.1 ini, saya coba dibagian pertama (awal) menuliskan kembali isi dari modul 3.1. Tujuannya sebagai bahan belajar bagi saya pribadi untuk lebih memahami intisari tujuan pembelajaran Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kabajikan  Sebagai Seorang Pemimpin yang ada pada modul 3.1 ini. Kemudian pada bagian selanjutnya (dibagian akhir) saya buat refleksinya berdasarkan materi modul 3.1 yang sudah saya tulis,

Hasilnya bisa dilihat pada dokumen PDF di bagian bawah ini:


Share:

Mengubah Ukuran Taskbar Windows 11

Merasa tampilan taksbar windows 11 terlalu besar? dan ingin mengubahnya menjadi lebi kecil?, ikut langkah-langkah berikut:
  1. Buka regedit dengan cara tekan tombol windows + r, kemudian ketik regedit dan tekan tombol enter.
  2. Pada layar regeti yang muncul, telusuri lokasi : HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Explorer\Advanced
  3. Selanjutnya klik kanan pada Advance, pilih New pada pop up menu yang muncul, selanjutnya ketikkan : TaskbarSi dan tekan enter.
  4. Double klik pada TaskbarSi, dan ganti data valuenya sebagai berikut:
    • Angka 0 untuk mengecilkan 
    • Angka 1 defaul bawaan windows 11
    • Angka 2 untuk membesarkan
  5. Restar komputer
  6. Selesai.

Share: