REFLEKSI MODUL 1.3

Jurnal Refleksi Modul 1.3  

Pada kegiatan refleksi modul 1.3 ini saya buat dengan menerapkan model DEAL (Description, Examination and Articulation of Learning) yang dikembangkan oleh Ash dan Clayton (2009).

DESCRIPTION

Pada modul 1.3 ini saya mempelajari tentang bagaimana membuat gambaran tentang murid impian. Pembelajaran ini dimulai dengan sebuah refleksi pada alur mulai dari diri. Disini saya diminta untuk menggambarkan bagaimana murid impian kita di masa depan. Pada tugas ini saya memimpikan murid saya:

  1. Muridku bisa aktif dalam kelompok untuk mengerjakan tugas bersama (kolaborasi, sesuai dengan perkembangan zaman)
  2. Memiliki karakter yang kuat dan memiliki prinsip yang jelas, 
  3. sehat, memiliki motivasi, disiplin, mengutamakan kualitas dalam setiap pekerjaan yang di hasilkan, emosi yang terkontrol dan bagus dalam berkomunikasi
  4. Senantiasa beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

Dari gambaran murid impian itu Saya juga menjabarkan menjadi rumusan visi yang saya impikan di pakai oleh sekolah tentang murid impian yaitu Terwujudnya peserta didik yang aktif berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah, berkarakter kuat, sehat, bermotivasi tinggi, disiplin, mengutamakan kualitas dalam setiap pekerjaan yang dihasilkan, emosi yang terkontrol, cakap dalam berkomunikasi serta senantiasa beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME.

Pada tahap eksplorasi konsep ada hal menarik yang saya dapatkan yaitu saat kita diminta untuk berlatih membuat pertanyaan BAGJA ( Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan rencana, Atur Eksekusi) berdasarkan pengalaman kita di  sekolah. Saat itu saya mengangkat sebuah prakarsa perubahan Bagaimana membuat peserta didik lebih semangat untuk belajar.

Saya sangat senang saat membuat Alur BAGJA ini karena tergambar jelas bagaimana perjuangan saya untuk mewujudkan visi saya sebagai guru Penggerak. Ruang kolaborasi adalah salah satu alur yang paling saya tunggu-tunggu karena saya dapat bertatap muka dengan teman-teman CGP yang lainnya dan tentunya mendapat motivasi dari fasilitator. Pada sesi diskusi kelompok saya mengikuti visi yang dibuat oleh kelompok, saya juga ikut menjelaskan mengapa visi ini dianggap penting dan apa alasan membuat Visi tersebut. Pada visi tersebut kami dalam kelompok berusaha menjelaskan gambaran bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia ini memiliki kelebihan dibalik segala kekurangan yang tampak oleh mata dan tugas kita sebagai guru adalah menuntun segala potensi yang ada pada anak tersebut bukan sesuai dengan keinginan kita . 

Ada nilai-nilai kebajikan yang termuat dalam visi yaitu mewujudkan profil pelajar Pancasila. Pastinya untuk mewujudkan visi tersebut diperlukan prakarsa perubahan dan dirancang suatu tindakan perubahan dengan menggunakan  model inkuiri apresiatif (IA) dengan tahapan BAGJA

Berdasarkan diskusi dengan teman-teman dan masukan dari fasilitator, akhirnya saya bisa memahami cara membuat prakarsa perubahan dengan bantuan kanvas BAGJA. 

Pemahaman saya tentang merumuskan visi dan membuat perubahan prakarsa dengan inkuisri apresiatif alur BAGJA semakin tercerahkan setelah saya mengikuti sesi elaborasi dengan instruktur. Saya semakin paham bahwa visi itu dirumuskan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai atau gambaran murid impian dimana visi ini hendaknya memuat dimensi profil pelajar pancasila.


EXAMINATION

Pada modul 1.3 ini kita diajak untuk belajar merumuskan suatu visi atau cita-cita yang kita impikan tentang murid, kemudian cita-cita tersebut kita susun untuk diwujudkan menjadi sebuah aksi nyata di kelas dengan sebuah prakarsa perubahan yang disusun dengan menggunakan model inkuiri apresiatif alur BAGJA . 

Pengalaman menyusun pertanyaan BAGJA ini adalah hal baru bagi saya dan luar biasa bagi saya dan tentunya sangat bermanfaat.  Selama ini saya memang punya mimpi tentang siswa tetapi mimpi itu tidak terwujud dengan baik karena tidak mempunyai prakarsa perubahan. Saya hanya menunggu , padahal untuk mencapai tujuan yang kita impikan maka harus mulai dari diri untuk Bergerak. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk bergerak jika kita tidak mulai untuk bergerak. 

Sebuah video yang ditampilkan oleh oleh fasilitator dan instruktur tentang keberanian anak kecil untuk turun pohon yang tumbang di tengah jalan telah menjadi inspirasi, bahwa saya harus berani masuk dalam lingkaran pengaruh agar orang-orang yang ada di sekitar saya tergerak untuk mengubah cara mendidik murid yaitu dengan cara menuntun bukan menuntut. Kita harus bergerak menjadi pelopor perubahan sehingga orang lain agar ikut tergerak untuk melakukan perubahan bersama-sama.


ARTUCULATION OF LEARNING

Pada tahap ini saya mempelajari Cara mewujudkan Visi impian dan melakukan proses perubahan dengan menggunakan pendekatan atau paradigma inkuiri Apresiatif (IA) yang dikembangkan oleh David Cooperrider (Cooperrider & Whitney, 2005; Noble & McGrath,2016)

Inkuiri Apresiatif (IA) merupakan pendekatan kolaboratof berbasis kekuatan yang bertujuan untuk melakukan perubahan yang membawa perbaikan dalam suatu sistem missal di sekolah dalam lingkup kecil yaitu di kelas. Manajemen perubahan yang saya lakukan adalah dengan menyusun tindakan menggunakan Tahapan BAGJA dengan berbasi kekuatan atau potensi yang ada.

Dari pembelajaran tersebut saya merencanakan ke dalam aksi nyata saya di kelas dan di sekolah mewujudkan visi impian dengan merumuskan prakarsa perubahan yang saya fokuskan pada pembiasaan dan pembelajaran model pembelajaran yang berpusat pada murid. Pembiasaan atau budaya positif yang dapat menumbuhkan peserta didik yang aktif berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah, berkarakter kuat, sehat, bermotivasi tinggi, disiplin, mengutamakan kualitas dalam setiap pekerjaan yang dihasilkan, emosi yang terkontrol, cakap dalam berkomunikasi serta senantiasa beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME.

Share:

0 Comments:

Post a Comment