Pendidikan adalah usaha untuk menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun sebagai anggota masyarakat.
Untuk mewujudkan hal tersebut, guru penggerak harus mampu:
- Menuntun seperti seorang petani dalam menumbuhkan tanamannya.
- Menghamba pada sang anak
- Memahami kodrat anak
- Memperbaiki lakunya agar selaras budi dan pekertinya
- Menjadikan anak sebagai manusia merdeka
Nilai-nilai yang harus di miliki oleh Guru Penggerak:
- Mandiri
- Reflektif
- Kolaboratif
- Inovatif
- Berpihak Pada Murid
Peran yang harus di ambil oleh Guru Penggerak adalah Memujudkan Dimensi Profil Pelajar Pancasila, yaitu :
- Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia
- Mandiri
- Bernalar Kritis
- Kebhinekaan Global
- Bergotong Royong
- Kreatif
Pola Pikir Guru Penggerak:
Menerapkan berpikir cepat untuk hal-hal yang butuh penyelesaian cepat dan berpikir lambat untuk hal-hal yang masih perlu di pertimbangkan dengan baik.
Sintesis Pengetahuan
Pendidikan adalah usaha untuk menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setingi-tingginya, baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.
Guru penggerak merupakan agen transformasi pendidikan menuju ke arah yang lebih baik dan berlandaskan pada filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Untuk dapat menuntun siswa mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh guru penggerak diantaranya yaitu menuntun siswa dalam pembelajaran bak filosofi seorang petani dalam menumbuhkan tanamannya dengan penuh kasih sayang, menghamba pada sang anak, memahami kodrat anak (kodrat alam dan kodrat zaman), memperbaiki laku siswa agar selaras antara budi dan pekertinya, menjadikan siswa sebagai manusia yang merdeka.
Selain melakukan hal- hal di atas seorang guru penggerak harus memiliki 4 kompetensi wajib yaitu
- Memimpin pembelajaran
- Mengembangkan diri dan orang lain
- Memimpin pengembangan sekolah
- Memimpin manajemen sekolah
Guru penggerak juga memiliki nilai-nilai yang harus selalu diterapkan dan agar dapat menjadi teladan bagi rekan guru dan juga komunitasnya. Nilai-nilai tersebut antara lain yaitu:
- Mandiri
- Reflektif
- Kolaboratif
- Inovatif
- Berpihak pada murid
Peran guru penggerak di dalam pembelajaran dan pengembangan sekolahnya yaitu sebagai berikut:
- Berkolaborasi dengan orang tua dan komunitas untuk mengembangkan sekolah dan kepemimpinan murid.
- Menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong well-being ekosistem pendidikan di sekolah.
- Mengembangkan diri dan guru lain dengan refleksi dan berkolaborasi
- Memiliki kematangan moral, emosional, dan spiritual.
- Merencanakan, melaksanakan, merefleksikan, mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan melibatkan orang tua.
- Mewujudkan profil pelajar Pancasila yang terdiri atas beriman, bertakwa kepada tuhan YME, dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong royong, dan kebhinekaan global.
Pola pikir yang harus dimiliki seorang guru penggerak dalam melaksanakan tindakannya yaitu ada dua pola pikir yaitu
- pola pikir cepat dan
- pola pikir lambat.
Pola Pikir Cepat (Thinking Fast)
Bagian batang otak & sistem limbik ‘diprogram’ untuk mengonversikan energi (auto-pilot atau otomatisasi) > kecenderungan alamiah. Jalur: Aksi > Reaksi.
Pola Pikir Lambat (Thinking Slow):
Untuk berpikir strategis, kreatif, metakognitif > merupakan kekuatan yang juga sekaligus merupakan masalah > memakan banyak energi. Jalur: Aksi > Reaksi > Respon (pilihan-putusan sadar).
Peristiwa
Mengenai koneksi antar materi dari modul 1.1 dan modul 1.2 ini tentu banyak perisitwa yang saya dapati. Beberapa diantaranya misalnya:
- Pada modul 1.1 kami belajar bersama, berdiskusi dan mendapatkan pondasi atau pijakan filosofis dari kegiatan pendidikan di Indonesia. Kami belajar tentang hakikat pendidikan, tujuan pendidikan, alat pendidikan, syarat pendidikan, prinsip-prinsip pendidikan, dan lain sebagainya berdasarkan pada konsep-konsep pemikiran Bapak Pendidikan Nasional kita, Bapak Ki Hajar Dewantara.
- Sementara itu, pada modul 1.2 kami belajar bersama, berdiskusi dan meluaskan wawasan kami mengenai nilai-nilai dan peran guru penggerak. Pada sesi ini kami mempelajari tentang macam-macam konsep yang akan mendukung pada terealisasinya profil pelajar pancasila melalui peran aktif guru penggerak:
- Manusia’ tergerak; dalam memahami ini dibahas beberapa hal, misalnya: Kinerja otak (triune brain, berpikir cepat-lambat), Kebutuhan genetis (5 kebutuhan dasar manusia), serta tahap-tahap tumbuh kembang anak.
- Manusia merdeka ‘bergerak’; dengan pembahasan antara lain: memahami teori pilihan, motivasi intrinsik, profil pelajar pancasila, dan nilai-nilai guru penggerak.
- Menuntun kekuatan kodrat manusia ‘menggerakkan’; yang meliputi bahasan tentang diagram identitas gunung es, lingkaran pengaruh, dan peran guru penggerak.
Seperti biasa, selain Eksplorasi Konsep, kami semua juga melakukan rangkaian kegiatan-kegiatan, seperti: diskusi dan presentasi di ruang kolaborasi, demonstrasi kontekstual, elaborasi pemahaman, koneksi antar materi, aksi nyata, dan juga refleksi dwimingguan.
Perasaan
Pada momen saat saya mengetahui tentang teori otak triune ini, bahwa kita juga memiliki otak reptil yang mengelola semua otomatisasi dan reflek di tubuh demi kelangsungan hidup kita, sehingga mampu mengkonservasi energi yang digunakan otak. Bagian otak yang juga berfungsi mengotomatisasi kerja organ dalam tubuh, seperti: jantung, hati, paru-paru, dan lain-lain yang terkait dengan sistem pernapasan, metabolisme, reproduksi, hormon, suhu tubuh, bertahan hidup seperti: refleks untuk fight, flight, freeze (melawan, kabur, diam). Maka pada saat itu saya merasa sedikit ‘weird’, seperti menemukan sebuah fakta atau kenyataan aneh, tapi ya itulah kenyataannya.
Pembelajaran
Sebelum momen ‘kesadaran’ baru tersebut terjadi, saya berpikir bahwa otak kita adalah otak luhur manusia, dan sekarang saya berpikir dan menyadari bahwa dari bagian-bagian itu benar-benar menunjukkan betapa ‘complicated’ dan canggihnya sistem koordinasi otak kita, dan atas fakta ini menunjukkan betapa kemahakuasaan Sang Pencipta, Allah SWT. Jadi, di sini perlu diingat bahwa secara alamiah kita mempunyai kecenderungan untuk mengkonservasi energi. Insting kita akan lebih cepat bereaksi dan mengklasifikasikan sesuatu sebagai ancaman, ketimbang harus menganalisanya terlebih dahulu apakah benar itu adalah ancaman. Kabar baiknya, otak luhur manusia juga dilengkapi dengan kemampuan untuk belajar. Tidak statis tapi elastis. Dengan demikian, penggunaan sistem berpikir lambat, penggunaan otak luhur (manusia) dapat kita pelajari agar tidak begitu saja memperkenankan sistem berpikir cepat (otak reptil dan mamalia) mengambil alih kendali diri kita.
Maka pelajaran yang saya dapatkan, bahwa kita harus bisa mengontrol dan menuntun otak reptil-mamalia kita, juga para peserta didik kita, untuk selalu dalam lingkupan kontrol otak luhur kita.
Penerapan
Sebagai penerapan ke depan (rencana) saya, saya berusaha menjawab pertanyaan pemantik tentang apa pengembangan diri yang sederhana, konkret dan rutin yang dapat saya lakukan sendiri dari sekarang, untuk membantu menguatkan nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak. Untuk menjawab pertanyaan ini, hal sederhana, konkret, dan rutin untuk melakukan pengembangan diri antara lain adalah:
- membuat suasana belajar yang menyenangkan;
- melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid;
- mengikuti pelatihan-pelatihan pengembangan diri secara mandiri, baik daring maupun luring;
- sering membuat refleksi sederhana, sehingga ada jejak terhadap proses perbaikan kita.
0 Comments:
Post a Comment