Jurnal Refleksi Modul 1.1
Secara umum, jurnal adalah sebuah tulisan yang dibuat oleh orang-orang yang ahli dalam suatu bidang. Sementara itu, Dalam Kamus Besar Bahasa indonesia kata “refleksi” masuk dalam dalam kategori kelas kata benda, dan memiliki makna gerakan atau pantulan di luar kesadaran sebagai reaksi atas suatu hal atau kegiatan yang datang dari luar.
Dengan demikian maka bisa dikatakan bahwa jurnal refleksi dwimingguan adalah sebuah tulisan tentang refleksi diri setelah mengikuti sebuah kegiatan pelatihan (upgrading skill) yang ditulis secara rutin setiap dua mingguan. Dan ini sudah menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh para CGP (Calon Guru Penggerak) untuk membuatnya.
Jurnal Refleksi dwimingguan ini merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh calon guru penggerak. Sebagai calon guru penggerak pada angkatan 6, saya akan merefleksi seluruh rangkaian kegiatan selama mempelajari modul 1.1. yaitu tentang Filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan.
Dalam menulis jurnal refleksi ini saya berpedoman pada model 4F, yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway, yang mencakup:
- FACT (PERISTIWA)
- FEELING (PERASAAN)
- FINDING (PELAJARAN)
- FUTURE (PENERAPAN)
Secara bahasa fact bermakna fakta. Jadi pada sub bagian ini penulis akan menceritakan secara objektif tentang rangkaian peristiwa yang telah dialami selama kurang lebih dua minggu ini. Adapun beberapa rangkaian peristiwa yang menulis alami selama rentang waktu 2 minggu ini adalah:
- Kegiatan ini diawali dengan pembukaan. Turut hadir pada event pembukaan secara nasional ini adalah Bapak Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Bapak Nadiem Makarim, B.A., M.B.A., Bapak Direktur KSPSTK (Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan), Bapak Dr. Praptono, M.Ed, Bapak Dirjend GTK Bapak Dr. Iwan Syahril, Ph.D, seluruh penyelenggara/BBGP/BGP, Calon Pengajar Praktik, Calon Guru Penggerak seluruh Indonesia yang tergabung di PGP Angkatan 6. Pada kesempatan sambutan dalam pembukaan ini, Bapak Dirjen GTK menyampaikan “Apapun yang dilakukan dari hati, akan diterima pula oleh hati”. Dengan ini beliau berharap bahwa semua elemen PGP ini akan melakukan semua programnya dari hati sehingga semuanya juga akan diterima dengan setulus hati.
- Setelah pembukaan, maka agenda selanjutnya adalah pre-test yang dilaksanakan secara online, dan dikuti oleh semua calon peserta PPGP.
- Berikutnya, kegiatan dilanjutkan dengan materi “Mulai dari Diri & Eksplorasi Konsep – Mandiri”. Pada bagian ini, kami sudah mulai mengerjakan tugas dengan mengisi LMS yang disediakan oleh penyelenggara PPGP. Disini kami menjawab pertanyaan-pertanyaan refleksi kritis, diantaranya:
- Apa yang ada Anda ketahui tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) mengenai pendidikan dan pengajaran?;
- Apa relevansi pemikiran KHD dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini dan konteks pendidikan di sekolah Anda secara khusus?;
- Apakah Anda merasa sudah melaksanakan pemikiran KHD?. Dan juga pertanyaan mengenai “Harapan dan Ekspektasi” kami sebagai calon guru penggerak.
- On the next day, kami sudah mulai bergelut dengan materi 1.1.a.4. Eksplorasi Konsep. Yakni konsep-konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara. Kami disajikan video, tulisan-tulisan dan juga manuskrip pidato KHD pada saat penganugerahan honoris causanya di Universitas Gajah Mada. Kami membaca, memahami dan menganalisis semua konsep-konsep pemikiran KHD khususnya dalam hal pendidikan. Kegiatan pendalaman materi ini juga merupakan sesi persiapan agar kita sudah cukup punya pemahaman untuk melaksanakan rangkaian kegiatan berikutnya.
- Rangkaian kegiatan berikutnya adalah Forum diskusi. Pada kesempatan ini kami mengikuti sesi diskusi seru sesama semua CGP Angkatan 6 yang dipandu oleh Ibu Fasilitator yang hebat. Kami mendiskusikan tentang konsep pemikiran KHD yang sebelumnya kami pelajari.
- Berikutnya kami mengikuti ruang kolabarasi. Sesi ini dijalankan dengan diskusi dalam kelompok-kelompok kecil antara 5 - 6 orang peserta tiap kelompok. Kami berdiskusi mengenai implementasi konsep pemikiran KHD dalam mengangkat tema-tema kedaerahan (budaya lokal).
- Hari berikutnya, adalah tugas kami untuk mengikuti ruang kolaborasi lagi, yang akan diisi dengan presentasi masing-masing kelompok mengenai hasil diskusi kelompok sehari sebelumnya. Pada kesempatan ini, kami masing-masing, antara kelompok, saling mengkritisi, menanyakan dan juga memberi masukan.
- Kegiatan selanjutnya yang kami ikuti adalah Lokakarya Orientasi. Kami mendapatkan penjelasan panjang lebar mengenai PGP, mengenai LMS dan lain sebagainya. Sesi berikutnya dari kegiatan lokakarya ini dihandle oleh para Pengajar praktik hebat. Kegiatan ini berlangsung sampai sore hari. Kami juga membahas tentang pembuatan dan pengumpulan beberapa LK dan tata cara pembuatan jurnal refleksi digital. Ketika kita ingin membangun kebiasaan membaca pada siswa, agar mereka juga memiliki daya critical thinking maka sebagai ing ngarsa sung tuladhanya kita sebagai guru juga harus hobi dan sering membaca buku.
- Lalu hari-hari berikutnya adalah hari-hari menuntaskan tagihan-tagihan tugas mengisi LMS, seperti:
- Tugas demonstrasi kontekstual;
- Tugas elaborasi pemahaman/koneksi antar materi, yang kami tuangkan dalam bentuk artikel blok sederhana, dengan link -klik disini- ;
- Aksi nyata, dan;
- Jurnal refleksi dua mingguan yang ini.
FEELING (PERASAAN)
Feeling secara harfiah bermakna perasaan. Jadi selama kurang lebih dua minggu mengikuti program PGP ini, banyak sekali hal yang saya rasakan. Haru, senang, galau, bahagia, semua bercampur baur menjadi satu dan konvergen dengan keinginan dan tekad yang kuat untuk dapat menyelesaikan Program Guru Penggerak ini. Dengan kegiatan ini kami dipertemukan dengan orang-orang hebat dan pilihan, karena untuk menjadi bagian dari PGP ini orang harus melewati serangkaian kegiatan, ujian dan lain sebagainya yang tidak cukup mudah. Mereka para orang hebat tersebut adalah, para fasilitator, pengajar praktik dan juga semua rekan-rekan CGP.
Dari keseluruhan rangkaian modul, tagihan dan tugas-tugas yang ada di dalam LMS ini membuat saya menyadari bahwa apa yang saya miliki dan pahami tentang Pendidikan ini masih sangat jauh dari apa yang diharapkan dengan tujuan konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara.
Betapa KHD menerangkan bahwa kita harus memanusiakan manusia, memerdekakan manusia, kita harus menuntun sehingga murid dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal dengan segala kodratnya (baik kodrat alam, maupun kodrat zamannya) sehingga para siswa kelak dapat mencapai kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat.
FINDING (PELAJARAN)
Banyak hal yang saya temukan dalam modul 1.1 ini, utamanya mengenai konsep konsep pemikiran KHD dalam dunia pendidikan. Diantaranya adalah sebagai berikut:
Syarat-Syarat Pengetahuan
Pendidikan yang teratur yaitu pendidikan yang berdasarkan pada pengetahuan, yang dinamakan “Ilmu Pendidikan”. Ilmu ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi masih berhubungan ilmu-ilmu lainnya, yang dinamakan ilmu syarat-syarat pendidikan (hulpwetenschappen), yang terbagi menjajdi 5 jenis, yaitu:
- Ilmu hidup batin manusia (ilmu jiwa, psychologie);
- Ilmu hidup jasmani manusia (fysiologie);
- Ilmu keadaan atau kesopanan (etika atau moral);
- Ilmu keindahan atau ketertiban-lahir (estetika);
- Ilmu tambo Pendidikan (ikhtisar cara-cara Pendidikan).
Peralatan Pendidikan
Yang dimaksud dengan “peralatan” adalah alat-alat pokok, yakni cara-cara mendidik. Perlu diketahui bahwa cara-cara mendidik beragam banyaknya, akan tetapi pada dasarnya cara tersebut dapat dibagi seperti berikut:
- Memberi contoh (voorbeld);
- Pembiasaan (pakulinan, gewoontervorming)
- Pengajaran (wulang-wuruk, leering)
- Perintah, paksaan dan hukuman (regearing en tucht);
- Tindakan (laku, zelfberheersching, zelfdiscipline);
- Pengalaman lahir dan batin (nglakoni, ngrasa, beleving).
Tentang Akulturasi
Soal akulturasi yang telah kita masukan dalam rangkain asas-asas ke-Tamansiswaan-an. Yaitu “Asas Tri-con” yang mengajarkan, bahwa di dalam pertukaran kebudayaan dengan dunia luar harus kontinuitet dengan alam kebudayaannya sendiri, lalu konvergensi dengan kebudayaan-kebudayaan lain yang ada, dan akhirnya jika kita sudah bersatu dalam alam universal, kita bersama mewujudkan persatuan dunia dan manusia yang konsentris. Konsentris berarti bertitik pusat satu dengan alam-alam kebudayaan sedunia, tetapi masih memiliki garis lingkaran sendiri-sendiri. Inilah suatu bentuk dari sifat “Bhineka Tunggal Ika”.
Dan tentu saja, yang paling fenomenal adalah reaktualisasi konsep “Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, dan Tut wuri handayani”. Yang memiliki makna: Di depan atau sebagai guru mampu memberikan contoh dan teladan yang baik, di tengah-tengah murid mampu membangun kehendak, keinginan, dan atau ide, serta jika di belakang mereka (para murid) maka kita bisa memberikan tenaga dan dorongan kepada kemajuan mereka.
FUTURE (PENERAPAN)
Dalam bahasa inggris, future bermakna masa yang akan datang. Jadi ini terkait planning atau rencana kedepan bagaimana supaya lebih baik dengan berpijak pada pengalaman-pengalaman dan hasil refleksi ini. Kedepannya, saya akan berusaha untuk mengaplikasikannya konsep-konsep KHD ini secara langsung. Mulai dari diri, kemudian ke kelas-kelas yang saya ajar, dan lebih lanjut, kepada keseluruhan murid di sekolah saya. Dan tentu tidak lupa kepada seluruh warga dan masyarakat. Yakni konkritnya saya akan:
- Selalu refleksi dan intropeksi diri sebagai pendidik;
- Melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada siswa;
- Berperan sebagai pamong yang siap ngemong dalam pembelajaran; dan
- Membuat suasana pembelajaran yang menyenangkan.
0 Comments:
Post a Comment